Senin, 16 November 2009

KONSEP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI MENURUT AN-NAHLAWI

KONSEP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
MENURUT AN-NAHLAWI
(Oleh: Farhatin Masruroh, S. Pd. I)
PENDAHULUAN



“Tiada suatu pemberian pun yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya, 
selain pendidikan yang baik”. (HR. Hakim)
Anak adalah amanat dari Allah yang harus dijaga kefitarahannya untuk menjadi manusia yang memiliki nila-nilai hidup yang bermakna, yaitu menusia yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia. Generasi unggul yang diharapkan orang tua tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Lingkungan yang subur disekitar anak termasuk orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama, masyarakat, dan sekolah harus selalu diciptakan agar potensi yang dimiliki dapat tumbuh optimal sehingga menjadi lebih sehat, cerdas dan berprilaku baik sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma-norma kemasyarakatan. Orang tua selain bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang baik dalam keluarga juga bertanggung jawab didalam menentukan pendidikan yang kondusif dari lingkungan masyarakat dan sekolah. Pelajaran yang baik dan penuh makna dalam kehidupan anak harus ditanamkan sejak dini agar dapat memberikan energy positif yang dapat membantu perkembangannya dimasa mendatang. 

PEMBAHASAN

Dasar Pemikiran an Nahlawi 
A. Pemikiran an Nahlawi tentang manusia

Islam menampilkan manusia sesuai dengan hakikatnya, menjelaskan asal-usulnya, keistimewaannya, tugasnya, hubungannya dengan alam semesta, atau kesiapannya untuk menerima kebaikan dan keburukan.
a. Hakikat manusia dan asal usul penciptaannya
• Ash al-baid : manusia tercipta dari tanah, kemudian Allah menyempurnakannya dan meniupkan bagian ruh-Nya
• Ash al-qarib : penciptaan manusia dari nutfah

b. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan
Allah telah menganugerahi manusia dengan kemampuan yang dengannya manusia dapat menguasai semesta.
c. Manusia makhluk istimewa dan terpilih
Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dari kejahatan, kedurhakaan dari ketakwaan.
d. Manusia adalah makhluk yang dapat dididik
Allah membekali manusia dengan kemampuan untuk belajar dan mengetahui. Sebagaimana firman Allah dalam surat al- Nahl ayat 78 :


 Artinya : “Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. ”
B. Konsep Pendidikan
a) Pendidikan dan Tujuan Pendidikan islam
Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada anak didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan.
Sedangkan tujuan pendidikan islam adalah sesuai dengan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri, yaitu : terciptanya insanul kamil yang dapat merealisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun secara social.
b) Ruang lingkup pendidikan islam
Pendidikan islam terdiri dari beberapa aspek yang mencakup seluruh potensi manusia.
1. Pendidikan kerohanian dan keimanan
2. Pendidikan akhlak
3. Pendidikan akal
4. Pendidikan jasmani
c) Sumber pendidikan islam
Menurut an-Nahlawi pendidikan islam bersumber dari al-qur’an dan hadits. Namun selanjutnya para ulama mengembangkannya dengan qiyas syar’i, ijma’ ulama, ijtihad dan tafsir.
d) Lingkungan pendidikan
Lingkungan pendidikan yang dapat memberi kontribusi bagi perkembangan anak didik ada tiga, yaitu lingkungan keluarga; sebagai lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak didik melalui aktivitas-aktivitas pembentukan keluarga yang berdasar pada syariat islam. Pendidikan sekolah; sebagai media realisasi pendidikan berdasarkan tujuan pemikiran, akidah, dan syariat demi terciptanya sikap pengahambaan kepada Allah dan mengembangkan segala bakat dan potensi manusia sesuai fitrahnya. Lingkungan masyarakat; sebagai wahana interaksi social anak dapat memberikan pelajaran yang sangat kompleks bagi terbentuknya nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan. 
e) Pendidik dan anak didik
Pendidik dalam islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Sehingga dapat membantu proses perkembangan potensi anak didik dengan sempurna.
Pada dasarnya anak didik dilahirkan dengan membawa fitrahnya masing-masing. Oleh Karena itu didalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang kritis dan strategis dibutuhkan adanya bimbingan dan arahan yang konsisten dari pendidik agar mampu menuju kemampuan fitrahnya dengan optimal. Pendidik memiliki pengaruh yang sangat urgen didalam memberi corak warna terhadap nilai hidup pendidikan anak didik.
Beberapa hal yang perlu dipahami dalam masalah anak didik adalah: pertama, anak didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar yang digunakan anak didik tidak sama dengan orang dewasa. Kedua, perkembangan anak didik mengikuti tahap perkembangan tertentu. Ketiga, anak didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin. Kebutuhan anak mencakup kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih sayang, rasa harga diri dan realisasi diri. Keempat, anak didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik dari faktor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi segi jasmani , inteligensi, social, bakat dan lingkungan yang mempengaruhinya. Kelima, anak didik dipandang sebagai kesatuan system manusia, sesuai dengan hakekat manusia, anak sebagai makhluk monopluralis, meskipun terdiri banyak segi pribadi anak didik merupakan suatu kesatuan jiwa-raga (cipta, rasa dan karsa).

f) Karakteristik Pendidik
An-Nahlawi menyebutkan beberapa karakteristik seorang pendidik, yaitu:
a. Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
b. Bersifat ikhlas; melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semat-mata untuk mencari ridha Allah dan menegakkan kebenaran
c. Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
d. Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.
e. Senantiasa membekali diri dengan ilmu, kesediaan diri untuk terus mendalami dan mengkajinya lebih lanjut
f. Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaan metode pendidikan.
g. Mampu mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak dan proporsional.
h. Mengetahui kondisi psikis peserta didik.
i. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola berpikir peserta didik.
j. Berlaku adil terhadap peserta didiknya.
Dari karakteristik di atas dapat dipahami bahwa pendidik dalam pandangan Islam memiliki posisi yang tinggi dan terhormat. Namun tugas yang mesti mereka emban tidaklah mudah, sebab Islam menuntut pendidik tersebut melakukan terlebih dahulu apa-apa yang akan ia ajarkan. Dengan begitu, pendidik akan mampu menjadi teladan (uswah) bagi peserta didiknya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendidik yang mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW.

g) Tugas Pendidik
An-Nahlawi memberikan pandangnya bahwa tugas pokok pendidik dalam Islam adalah: (1) tugas pensucian, pendidik hendaknya mengembangkan dan membersihkan jiwa peserta didik agar dapat mendekatkan diri kepada Allah, menjauhkannya dari keburukkan dan menjaganya agar tetap berada pada fitrahnya, (2) tugas pengajaran, pendidik hendaknya menyampaikan berbagai pengetahuan dan pengalaman kepada peserta didik untuk diterjemahkan dalam tingkah laku dan kehidupannya. 
Pada sisi yang berbeda, pendidik bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sekaligus sebagai pembimbing, pelatih bahkan pencipta perilaku peserta didik. Dalam tugasnya sehari-hari yang menjadi fokus utama pendidik mesti melingkupi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, karena ke depan tugas pendidik semakin kompleks, sehingga diharapkan pendidik untuk bekerja lebih keras dengan tekun dan loyalitas untuk menciptakan dan mengembangkan sumber daya manusia.

h) Metode Praktis Mendidik Anak
Sebelum anak dididik berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, maka ada berbagai metode yang dapat diterapkan dalam hal – hal penanaman nilai-nilai islam pada diri anak. Sehubungan dengan hal ini, Abdurrahman an-Nahlawi mengemukakan ada tujuh kiat dalam mendidika anak sejak usia dini.
1. Dengan Hiwar
Metode dialog adalah metode menggunakan tanya jawab, apakah pembicaraan antara dua orang atau lebih, dalam pembicaraan tersebut mempunyai tujuan dan topik pembicaraan tertentu. Metode dialog berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan pendengarnya. Metode dialog sering dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mendidik akhlak para sahabat. Rasulullah berpesan dengan sabdanya:

Artinya : “Kami disuruh berdialog dengan manusia menurut tingkat intelektualnya. ”(HR. Bukhari)
Dalam menerapkan metode hiwar harus disesuaikan dengan perkembangan intelektual anak dan ciri yang dimiliki anak. bagi anak usia dini dapat dilaksanakan bersama-sama dengan cerita atau kisah teladan.
2. Dengan Kisah 
Kisah memiliki fungsi yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Suatu kisah bisa menyentuh jiwa dan akan memotivasi anak untuk merubah sikapnya. Kalau kisah yang diceriterakan itu baik, maka kelak ia akan berusaha menjadi anak yang baik, sebaliknya bila kisah dalam cerita tersebut tidak baik, maka suatu saat anak akan bersikap dan berprilaku sebagaimana tokoh dalam cerita tersebut. Contohnya, banyak anak-anak jadi malas, tidak mau berusaha dan mau terima beres. Karena kisah yang menarik baginya adalah kisah khayalan yang menampilkan pribadi malas tetapi selalu ditolong dan diberi kemudahan. 
Banyak sekali kisah-kisah dalam al-qur’an maupun sejarah, baik kisah para nabi, sahabat atau orang-orang shalih, yang bisa dijadikan pelajaran dalam membentuk kepribadian anak. 
Dengan metode kisah, cerita atau dongeng anak dengan penuh perhatian akan melibatkan diri dengan realita yang diberikan guru.
Manfaat cerita bagi anak:
• Cerita bermanfaat bagi perkembangan pengamatan, ingatan, fantasi dan pikiran anak
• Bahwa cerita yang baik dan terpilih sangat berguna sekali untuk pembentukan budi pekerti anak
• Bentuk cerita yang tersusun baik dari cara penyampaiannya juga baik akan dapat menambah pembendaharaan bahasa. Karena begitu besar pengaruh cerita atau dongeng bagi anak.
3. Metode Perumpamaan
Al-Qur`an dan al-hadits banyak sekali mengemukakan perumpamaan. Jika Allah SWT dan Rasul-Nya mengungkapkan perumpamaan, secara tersirat berarti orang tua juga harus bisa mengambil hikmah ajaran Allah dan Rasul-Nya didalam mendidik anak-anaknya dengan perumpamaan. Sebagai contoh, orang tua berkata pada anaknya, “Bagaimana pendapatmu bila ada seorang anak yang rajin shalat, rajin mengaji, giat belajar dan hormat pada kedua orang tuanya, apakah anak itu akan disukai oleh ayah dan ibunya?” Tentu si anak berkata, “Tentu, anak itu akan disukai oleh ibunya.” 
Dalam ungkapan tersebut orang tua dapat mengarahkan anaknya untuk memberikan penyadaran bahwa jika seorang anak ingin disayang oleh orang tua ataupun guru, maka tentunya dia harus rajin shalat, mengaji, belajar dan berbakti kepada kedua orang tua dan guru.

4. Metode pembiasaan atau latihan dan pengamalan
Inti pembiasaan sebenarnya adalah pengulangan terhadap segala sesuatu yang dilaksanakan atau yang diucapkan oleh seseorang. Misalnya, anak-anak dibiasakan bangun pagi / hidup bersih, maka bangun pagi / hidup bersih adalah suatu kebiasaan. Hampir semua ahli pendidikan sepakat untuk membenarkan pembiasaan sebagai salah satu upaya pendidikan.
Untuk mencetak anak yang shaleh sejak dini harus dilatih mengamalkan ajaran-ajaran islam. Seperti shalat, puasa, berjilbab bagi yang puteri dan sebagainya. 
Dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini guru dapat memberikan pembiasaan berupa:
• Masuk sekolah tepat waktu 
• Berjabat tangan setiap bertemu dan berpisah
• Menjaga kebersihan diri dan lingkungan belajar
• Mengajarkan dan membiasakan berdoa dalam aktifitas sehari-hari
• Meminta maaf jika mempunyai kesalahan 
Melalui pembiasaan akan membantu anak untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang.



5. Metode keteladanan
Orang tua merupakan pribadi yang sering ditiru anak-anaknya. Kalau perilaku pendidik baik, maka anaknya meniru hal-hal yang baik dan bila perilaku orang tuanya buruk, maka bisanya anaknya meniru hal-hal buruk pula.
Kalau orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak shaleh, maka yang harus shalih duluan adalah orang tuanya. Demikian juga jika seorang guru menginginkan seoarang anak didik yang baik, maka guru harus selalu memberikan teladan yang baik pula. Sebab, dari contoh yang baik dari orang tua maupun guru, anak-anak akan meniru, dan meniru itu sendiri merupakan gharizah (naluri) dari setiap orang. 
Metode keteladanan merupakan salah satu teknik pendidikan yang efektif dan sukses. Allah telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang baik bagi manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21:




Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21). 
Dalam praktek pendidikan anak didik cenderung meneladani pendidiknya. Dasarnya adalah secara psikologis anak senang meniru baik itu baik ataupun buruk, dan secara psikologis pula manusia membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya. Orang tua dan guru tidak hanya bisa berbicara tapi juga harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak.
Menurut An-Nahlawi pendidikan melalui teladan dapat diterapkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. 
- Contoh dengan tidak sengaja : keilmuan, keikhlasan dll.
- Contoh dengan sengaja : membaca yang baik, mengajarkan shalat yang benar, berbicara yang santun dll.

6. Dengan ‘Ibrah dan Mau’idzah
Para pendidik bisa mengambil kisah-kisah sejarah sebagai pelajaran untuk anak. Begitu pula dengan peristiwa aktual, bahkan dari kehidupan makhluk lain banyak sekali pelajaran (‘ibrah) yang bisa diambil. Melalui ‘ibrah, para pendidik dapat membina akhlak islam dan perasaan ketuhanan anak didik. Bila pendidik sudah berhasil mengambil pelajaran dari suatu kejadian untuk anak didiknya, selanjutnya pada mereka di-berikan mau’idzah (nasehat) yang baik.
Dalam tafsir al-Manar sebagai dikutip oleh Abdurrahman An-Nahlawi dinyatakan bahwa nasihat mempunyai beberapa bentuk dan konsep penting yaitu, pemberian nasehat berupa penjelasan mengenai kebenaran dan kepentingan sesuatu dengan tujuan orang diberi nasehat akan menjauhi maksiat, pemberi nasehat hendaknya menguraikan nasehat yang dapat menggugah perasaan afeksi dan emosi, seperti peringatan melalui kematian, peringatan melalui sakit, peringatan melalui hari perhitungan amal. Kemudian dampak yang diharapkan dari metode mauidzah adalah untuk membangkitkan perasaan ketuhanan dalam jiwa anak didik, membangkitkan keteguhan untuk senantiasa berpegang kepada pemikiran ketuhanan, perpegang kepada keimanan, terpenting adalah terciptanya pribadi bersih dan suci.
Misalnya dengan iman yang kuat, umat Islam yang sedikit, mampu mengalahkan orang kafir yang banyak di perang Badar. Sesuatu yang berat dan besar bisa dipindahkan, bila kita bekerjasama seperti semut-semut bergotong-royong membawa sesuatu, dan begitulah seterusnya. 
7. Metode Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji-janji menyenangkan bila seseorang melakukan kebaikan, sedang tarhib adalah ancaman melalui hukuman bagi orang yang melakukan dosa, kesalahan, atau perbuatan yang dilarang Allah atau tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah. Banyak sekali ayat dan hadits yang mengungkapkan janji dan ancaman. Itu artinya orang tua juga mesti menerapkannya dalam pendidikan anak-anaknya. Anak berakhlak baik, atau melakukan kesalehan akan mendapatkan pahala/ganjaran atau semacam hadian dari gurunya, sedangkan siswa melanggar peraturan berakhlak jelek akan mendapatkan hukuman setimpal dengan pelanggaran yang dilakukannya. Dalam al-Qur’an dinyatakan orang berbuat baik akan mendapatkan pahala, mendapatkan kehidupan yang baik.
Dalam mendidik anak, penghargaan dan hukuman kadang-kadang juga sangat diperlukan dalam mendidik anak. Penghargaan boleh saja diberikan pada anak jika mencapai suatu hasil atau prestasi yang baik. Fungsinya untuk mendidik dan memotivasi anak untuk dapat mengulangi kembali tingkah laku yang baik itu. Penghargaan yang diberikan kepada anak dapat berupa pujian, bingkisan, pengakuan atau perlakuan yang istimewa. 
Sebaliknya, hukuman merupakan sanksi fisik atau psikis yang hanya boleh diberikan ketika anak melakukan kesalahan dengan sengaja. Rasulullah memerintahkan kepada orang tua memukul anaknya ketika telah berumur 10 tahun masih juga lalai shalat. Tentu saja dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Hukuman yang diberikan haruslah proporsional (sesuai) dengan kesalahan anak. Berat ringannya hukuman disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan, dan disesuaikan pula dengan kemampuan anak melaksanakan hukuman tersebut. Menghukum anak yang memecahkan gelas misalnya, harus berbeda dengan anak yang melailaikan shalat. Artinya, pelanggaran syar’i harus mendapat porsi hukuman khusus (lebih berat misalnya) dibandingkan kesalahan teknis yang tidak terlalu penting. Hikmah dari pendidikan melalui hukuman ini diantaranya adalah untuk melatih disiplin dan mengenalkan anak pada konsep balasan setiap amal perbuatan. Jika anak terlatih sejak kecil untuk berhati-hati dengan larangan dan sungguh-sungguh melaksanakan kewajiban, maka akan memudahkan baginya untuk berbuat seperti itu ketika ia dewasa.
Dalam penerapan metode-metode pembelajaran tersebut bagi anak usia dini juga dapat diterapkan dengan cara bermain. Bagi anak usia dini belajar adalah bermain dan bemain sambil belajar.
Bermain merupakan wahana belajar untuk mengeksplorasi lingkungan yang dapat mengembangkan kemampuan fisik, kognitif dan social emosinal anak. Disamping itu bermain juga mengembangkan individu agar memiliki kebiasaan-kebiasaan baik, seperti tolong menolong, berbagi, disiplin, berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab. Misalnya anak diberi mainan berupa gambar-gambar untuk ditata (gambar rumah-masjid-manusia) lewat gambar itu sambil bermain anak dipusatkan pada topik sambil diajak berpikir atau mengetahui apa kegunaannya siapa yang menciptakan dll.

PENUTUP
KESIMPULAN

Pendidikan islam merupakan salah satu aspek dari ajaran islam secara keseluruhan, karena tujuan pendidikan islam tidak lepas dari tujuan hidup manusia dalam islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT yang selalu bertakwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.
Dalam konteks pendidikan islam, pencapain tujuan tersebut khususnya untuk membina kesadaran beragama pada anak sejak usia dini dapat melalui berbagai contoh pembiasaan, cerita, teladan yang baik dari orang tua dan guru yang kemudian diberikan penjelasan dan pengertian sesuai dengan taraf pemikirannya tentang norma dan nilai-nilai kemasyarakatan dan keagamaan . yang mana dengan penjelasan dan pengertian tersebut akan menumbuhkan tindakan, sikap pandangan, pendirian, keyakinan dan kesadaran serta kepercayaan untuk berbuat sesuatu yang bertanggung jawab. Pada akhirnya akan terbentuk kepribadian yang baik pada anak dimasa dewasanya yang memberikan pengaruh yang bermanfaat pada akal secara langsung dan mempengaruhi tenaga dan kejiwaan lainnya secara positif.






DAFTAR PUSTAKA
An Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat (Jakarta : Gema Insani Press), 1995
Konsep Pendidikan Akhlak, http: //www. Ekowahyudi. Wordpress. Com, dalam google. Com
Kosim. Muhammad http://mhdkosim.blogspot.com/2008/12/analisis-filosofis-pendidik-dan-peserta.html
Aziz, Abdul, M. Pd.I, Filsafat Pendidikan Islam sebuah gagasan membangun pendidikan islam (Yogyakarta : Teras), 2009
Nata, Abuddin, Filsafat pendidikan Islam 1(Ciputat : Logos wacana Ilmu) ,1997
http://riwayat.wordpress.com/2008/01/25/metode-mendidik-akhlak-anak/













Jumat, 13 November 2009

Konsep Fitrah Dan Implikasinya Pada Pendidikan Anak

Konsep Fitrah Dan Implikasinya Pada Pendidikan Anak
Oleh: Elly Agustina

A. Pendahuluan

 Kehadiran manusia di dunia melalui rangkaian proses kehidupan, ia tidak serta merta hadir ke dunia dengan kematangannya, proses kehidupan yang dijalanilah yang membentuk kematangannya secara pribadi. 
Allah SWT menciptakan manusia dengan tahapan yang lengkap dari tak berwujud hingga dapat dijumpai wujudnya. Menariknya adalah ketika timbul pertanyaan seperti yang diperdebatkan antara aliran Nativisme dan aliran Positivisme.
Aliran Nativisme yang dipelopori oleh Lombrosso dan Schopenhauer di abad 19 merasa pesismis terhadap pendidikan, mereka menganggap peluang pendidik memperoleh hasil pendidikan sangat sedikit, karena anak ditentukan oleh hukum-hukum pewarisan. Sehingga pengaruh orangtua dan keturunannya terhadap perilaku anak sangat dominan hingga sulit diubah oleh pendidikan.
Lain halnya dengan aliran Optimisme yang ditokohi oleh John Locke, menurut aliran ini segala bentuk tingkah laku manusia adalah produk pendidikan yang dijalaninya. Mereka justru menafikkan faktor bawaan yang ada pada manusia sejak ia lahir. John Locke mengibaratkan anak yang baru lahir seperti kertas putih yang belum ditulisi yang akan diisi sekehendak penulisnya. 
Di tengah perdebatan keduanya, aliran konvergensi bertindak bijak dengan menjembatani perseteruan dua aliran ini dengan teori barunya, menurut aliran konvergensi yang diusung oleh William Stern ini, faktor pembawaan dan lingkungan sama pentingnya dan keduannya sama-sama memiliki pengaruh. Perpaduan antara keduanyalah yang akan membentuk prilaku anak.
Ke tiga aliran tersebut punya teori masing-masing lalu bagaimana dengan Islam. Islam punya konsep sendiri mengenai hakikat anak, dalam hal ini Islam menawarkan konsep fitrah yang lebih dekat dengan aliran konvergensi sebagai bukti kesempurnaanya untuk menjawab semua perdebatan tersebut.  

B. Pembahasan 

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

(QS. Ar-Ruum: 30)

 Fuad Muhammad Abdul Baqi dalam al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz al Qur'an al Karim sebagaimana yang dikutip oleh Mujahid, menyebutkan istilah "fitrah" secara tegas hanya disebutkan satu kali dalam al-Qur'an. Berasal dari kata fatara, yafturu, fatran. Namun bila di runut dari asal-usul kata dan bentuk musytaq-¬nya al-Qur'an menyebutnya sebanyak 19 kali. 
 Secara bahasa fitrah berarti watak atau karakter, Louis Ma'luf mengartikannya sebagai ciptaan, suatu sifat tertentu yang setiap yang ada disifati olehnya sejak awal penciptaan atau bisa diartikan sebagai sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir), agama dan sunnah.  
 Al-Raghib al-Asfahani ketika menjelaskan makna fitrah dari segi bahasa sebagaimana yang dikutip Muhaimin, mengungkapkan kalimat fathara Allah al-khalq, yang maksudnya Allah mewujudkan sesuatu dan menciptakannya bentuk/keadaan, kemampuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan.  
Hamka dalam tafsir al-Azhar menafsirkan fitrah sebagai rasa asli murni dalam jiwa manusia yang belum kemasukan pengaruh dari yang lain, yaitu pengakuan adanya kekuasaan tertinggi dalam alam ini, yang maha Kuasa, maha Perkasa, maha Raya, mengagumkan, penuh kasih sayang, indah dan elok. 
Lain halnya dengan Muhaimin, ia mendefenisikan fitrah sebagai suatu kekuatan atau kemampuan (potensi terpendam) yang menetap/menancap pada diri manusia sejak awal kejadiannya, untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepada-Nya, cenderung kepada kebenaran (hanif), dan potensi itu merupakan ciptaan Allah.  
Ketika Allah meniupkan ruh kepada manusia pada proses kejadian manusia secara non fisik/immateri, maka pada saat itu pula manusia memiliki sebagian dari sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Asma' al-Husna. Misalnya sifat al-'Aliim (Maha Mengetahui): manusia juga diberi kemampuan untuk mengetahui sesuatu, al-Rahman (Maha Pengasih) dan al-Rahim (Maha Penyayang): begitu pula manusia yang juga bisa mngasihi dan menyayangi, al-'Afuw al-Ghafur (Maha Pemaaf dan Maha Pengampun): demikian halnya manusia yang juga diberi kemampuan untuk memafkan dan mengampuni kesalahan orang lain, al-Khaliq (Maha Pencipta): manusia pun memiliki kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi, al-Lathif al Khabir (Maha Lembut lagi Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tampak maupun yang tersembunyi): hal ini terkait dengan kemampuan manusia untuk bersikap lemah lembut dan cenderung kepada kelembutan serta mampu mengetahu dan merahasikan yang ia ketahui. al-Qadir (Maha Kuasa): manusia juga diberi kemampuan untuk berkuasa, al-'Adil (Maha Adil): manusia pun bisa berlaku adil, al-Murid (Maha Berkehendak): manusia mempunyai motivasi untuk berbuat, al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk): sifat ini menunjukkan kemampuan manusia untuk menayomi, menasehati, mendidik dan seterusnya. Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang dimiliki manusia inilah yang disebut fitrah menurut Hasan Langgulung.  
Fitrah dapat beraneka bentuk bila dilihat dari nilai-nilai illahiyah yang terkandung di dalamnya, yakni:
1. Fitrah beragama: potensi bawaan yang mendorong manusia untuk selalu pasrah, tunduk dan patuh kepada Allah SWT.
2. Fitrah berakal budi: potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berpikir dan berdzikir memaknai keagungan Allah terhadap alam semesta.
3. Fitrah kebersihan dan kesucian: potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berkomitmen terhadap kebersihan diri dan lingkungannya.
4. Fitrah bermoral/berakhlak: potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berkomitmen terhadap norma, nilai atau aturan yang berlaku.  
5. Fitrah kebenaran: potensi yang mendorong manusia untuk mencari dan mencapai kebenaran.
6. Fitrah kemerdekaan: potensi yang mendorong manusia untuk bersikap bebas/merdeka tidak terbelenggu atau diperbudak oleh sesuatu yang lain kecuali keinginanya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan.
7. Fitrah keadilan: fitrah ini mendorong manusia untuk berusaha menegakkan keadilan dimuka bumi.
8. Fitrah persamaan dan persatuan: mendorong manusia untuk mewujudkan persamaan hak, menentang diskriminasi dan berusaha menjalin persatuan dan kesatuan di muka bumi.
9. Fitrah individu: fitrah ini mendorong manusia untuk bersikap mandiri, bertanggung jawab, mempertahankan harga diri dan kehormatannya serta menjaga keselamatan diri dan hartanya.
10. Fitrah sosial: mendorong manusia untuk hidup bersama.
11. Fitrah seksual: mendorong seseorang untuk berkembang biak, mengembangkan keturunan dan mewariskan tugas kepada generasi penerusnya.
12. Fitrah ekonomi: mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui aktivitas ekonomi.
13. Fitrah politik: mendorong manusia untuk berusaha menyusun suatu kekuasaan dan institusi guna melindungi kepentingan bersama.
14. Fitrah seni: mendorong manusia untuk menghargai dan mengembangkan kebutuhan seni dalam hidupnya. 
Namun fitrah manusia tersebut bisa berubah atau tersesat karena manusia juga memiliki kecintaan terhadap nafsu. Nafsulah yang akan menyesatkan manusia dari hal-hal yang memuaskan fitrahnya. 
Pertanyaanya untuk apa manusia dibekali potensi-potensi tersebut, tentunya untuk melaksanakan tugas manusia sebagai khalifah fi al-Ard. Pada haikikatnya seluruh tugas manusia berujung pada tanggung jawabnya untuk beribadah dan mengesakan Allah SWT.  
Untuk mengetahui potret potensi yang dimiliki manusia, Abuddin Nata menggunakan dua kata kunci yang diambil dari al-Qur'an, yakni kata insan dan basyar. Meskipun keduanya sama-sama memiliki pengertian manusia, kata insan mengacu kepada manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi intelektual dan kejiwaan yang selanjutnya akan menjadi alat utama untuk memperoleh pengajaran dan pendidikan. Sedangkan kata basyar menunjukkan manusia dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan aktivitas lahiriah yang dipengaruhi dorongan kodrat alamiahnya.  
 Abdul Fatah Jalal dalam bukunya Min al-Ushul al-Tarbawiyah al Islamiyah menyebutkan 5 macam alat potensial yang dianugerahi Allah SWT untuk digunakan manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan, yakni sebagai berikut:
1. Al-Lam dan al-Syams (alat peraba dan pencium/pembau)
2. Al-Sam'u (alat pendengaran)
3. Al-Absar (Penglihatan)
4. Al-Aql (akal atau daya pikir)
5. Al-Qalb (kalbu) 

Terkait dengan keberadaan alat potensial tersebut Allah SWT telah memberikan manusia berbagai sarana untuk belajar. Firman Allah dalam surat an-Nahl: 78
         
"..., dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur."

Al-Maududi menjelaskan bahwa pendengaran merupakan pemeliharaan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain. Penglihatan merupakan hasil pengembangan pengetahuan dengan observasi dan penelitian yang berkaitan dengannya. Sedangkan hati merupakan sarana membersihkan ilmu pengetahuan dari kotoran dan noda sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang murni.  
Fitrah akan bersifat statis bila tidak ada upaya manusia untuk mengembangkannya. Namun ia bisa menjadi dinamis bila manusia berusaha mengembangkan potensinya.
Seperti yang diperdebatkan aliran positivisme dan nativisme, apakah pendidikan terhadap anak akan berhasil atau tidak. Berhasil atau tidaknya tentu tergantung pada upaya individu itu sendiri memaksimalkan potensi yang dimilikinya dalam memperoleh pendidikanya. Caranya dengan proses pendidikan. Potensi manusia akan berkembang melalui proses pendidikan yang dilewatinya.
Manusia adalah makhluk yang mempunyai kelengkapan jasmani dan rohani. Dengan kelengkapan jasmani, ia dapat melakukan tugas yang memerlukan dukungan fisik dan sebaliknya dengan kelengkapan rohaninya ia bisa melakukan tugas yang memerlukan dukungan moral. Sesungguhnya kedua unsur tersebut akan dapat produktif dan berfungsi dengan baik bila dibina dan dibimbing, dalam hal inilah pendidikan memegang peranan yang sangat penting. 
Selain pendidikan pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia juga dipengaruhi oleh faktor hereditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosio kultural, sejarah dan faktor-faktor temporal.  
Sebagai umat Islam dan makhluk yang mampu berpikir logis, pendidikan Islam adalah solusi bagi upaya pengoptimalan potensi manusia. Para pakar pendidikan Islam telah merumuskan tujuan pendidikan diantaranya An-Nahlawi, ia merumuskan empat tujuan umum pendidikan, yakni:
1. Pendidikan akal dan persiapan pikiran, Allah SWT menyuruh manusia merenungkan kejadian di langit dan bumi agar manusia beriman kepada-Nya.
2. Menumbuhkan potensi dan bakat asal pada kanak-kanak. Islam adalah agama fitrah sebab ajarannya tidak asing dari tabiat asal manusia.
3. Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya.
4. Berusaha menyeimbangkan segala potensi dan bakat manusia.  
Pengembangan fitrah dengan menggunakan sarana pendidikan Islam akan berimplikasi pada pengejawantahan nilai-nilai keisalaman terhadap semua komponen pendidikan yang akan mempengaruhi keberhasilan proses pendidikan seperti tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, millieu/lingkungan, materi, metode, dan evaluasi pendidikan. Semua komponen tersebut harus diarahkan pada upaya menjaga, memelihara dan mengembangkan fitrah anak.
Upaya untuk mengembangkan fitrah menjadi wewenang manusia itu sendiri, manusia diberikan kebebasan seluas-luasnya dengan tidak melanggar aturan Islam. Namun bagi anak yang masih belum bisa menentukan sendiri pilihan yang benar dan baik untuk dirinya, sangat dibutuhkan kehadiran lingkungan yang sehat untuk membimbing dan mendukungnya. 
كُلُ مَوْلُدٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ وَإِنَّمَا أَبَوَاهُ يُهَوّْدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani atau Majusi 
(H.R. Muslim).
Orangtua, keluarga dan masyarakat adalah lingkungan yang dimaksud dalam hal ini. Hadits tersebut mengambarkan bagaimana orangtua sangat mempengaruhi perkembangan fitrah anak. 
Hal ini sejalan dengan pendapat al-Ghazali, menurutnya seorang anak tergantung kepada orang tua dan orang yang mendidiknya, hati seorang anak itu bersih, murni laksana permata yang amat berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apa pun. 
Meskipun setiap anak sejak lahir membawa fitrah, baik berupa illahiyah, jasadiyah, maupun aql-nya, namun bila orangtua salah mengarahkannya maka fitrah tersebut pun akan bergeser dari hakikatnya semula. Oleh karena itu, peran lingkungan terutama orangtua sangat dibutuhkan dalam upaya mengembangkan fitrah anak.
Bagi seorang pendidik, kemampuan untuk mengenal potensi anak sangat diperlukan karena akan memudahkannya untuk memahami dan mengarahkan peserta didik dengan keunikannya masing-masing. Selain itu pendidik juga dituntut untuk mencermati perkembangan fisik, psikis anak dan mengetahui karakter anak didiknya serta kondisi lingkungan sosial yang membentuknya, demi tercapainya tujuan pendidikan.  
Demikian uniknya alat-alat potensial dan kemampuan yang dimiliki manusia merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus disyukuri. Menurut Muhammad Abduh bahwa yang dinamakan syukur itu, menggunakan nikmat anugerah sesuai dengan fungsinya dan sesuai kehendak yang menganugerahkanya yaitu Allah SWT. 
D. Penutup
 Pada hakikatnya manusia dilahirkan ke dunia dalam kondisi fitrah. Fitrah manusia tidak hanya bersifat statis ia dapat berkembang karena banyak hal, salah satunya melalui pendidikan, tentunya dengan pendidikan yang berlandaskan pada Islam. Upaya pengembangan fitrah manusia melalui pendidikan, terutama bagi anak-anak yang masih dalam proses pengenalan diri amat penting dilakukan guna tercapainya tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Oleh karena itu komponen-komponen pendidikan pun harus diarahakan pada upaya pengembangan potensi anak.


Alhamdulillah..alhamdulillah aku punya mata,
Mataku indah mataku bersih, Oh alhamdulillah...
Dapat kulihat dapat kupandang pemandangan indah
Aku bersyukur, alhamdulillah...
Terima kasih Allah


DAFTAR PUSTAKA

An-Nahlawi, Abdurahman. Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Alih Bahasa Shihabuddin. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Attabik Ali, al-Asri Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1996  

Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XXI. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002.

Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: al-Husna Zikra, 1995.
Louis Ma'luf, al-Munjid fi al-Lugah wa al-A'alm. Beirut: Dar al-Masyriq, 1986.

Muhaimin dkk. Paradigma pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Mujahid, " Konsep Fitrah dalam Islam dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam" Jurnal pendidikan Islam  
Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1997.
Nizar, Syamsul. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Othman, Issa Ali. Manusia Menurut al-Ghazali. Bandung: Pustaka, 1987.